Ibu
Ribuan canda tawa
Jutaan kata yang kadang tak serasi dengan mu
Akan selalu menjadi kenangan dalam pikir ku
Maaf Bu
Maaf untuk semua hal yang ku lakukan
Maaf untuk memarahimu
Maaf untuk sikap ku yang kadang mendengkik mu terlalu keras
Maaf untuk keras kepalanya diriku
Maaf untuk tak menurutimu
Maaf untuk tidak menghiraukan perkataan mu
Maaf untuk tidak mengantar mu pergi ke pasar
Maaf karena aku jarang menelepon mu
Maaf karena aku menutup telepon lebih dahulu
Maaf atas kekhawatiran mu
Maaf untuk cuek nya sikap ku pada mu
Maaf karena aku tak bisa menghibur mu saat dirimu kesakitan
Maaf atas kesepiannya dirimu
Maaf atas segala keluhan ku
Maaf karena aku tak bisa katakan bahwa aku sayang ibu
Aku sangat sangat minta maaf
Ibu
Aku tak bisa menyampaikan ini secara langsung padamu
Aku sungguh minta maaf
Bukan aku tak menghargai segala jerih payah mu
Bukan ku tak perduli atas segala keringatmu
Aku hanya tak punya cukup keberanian untuk megatakan bahwa aku menyayangimu lebih dari siapa pun
Jangan perah berpikir aku tak memandang mu
Jangan pernah berpikir aku jauh dari mu
Ku selalu disini
Di hati mu
Ibu
Aku tak perduli semiskin apa diri kita
Aku tak perduli meski kita hanya hidup dalam sebuah rumah kardus
Aku tak perduli lagi pada caci maki mereka para penguasa
Aku hanya ingin hidup mencintai mu, ibu
Hal yang paling ku banggakan adalah menjadi anak mu
Dan
Sulit ku akui
Hal yang paling ku sesali adalah menjadi anak mu
Aku tak tahu kehendak Tuhan
Tapi,
Cepat atau lambat, entah dirimu atau diriku
Aku hanya ingin
Kau tetap menjadi ibu ku di masa yang akan datang
You’re still the queen of my heart
Anakmu
swn
Rabu, 19 Agustus 2015
Jumat, 14 Agustus 2015
Kesan Untukmu, Singaraja-ku
Singaraja,
yup siapa sih yang gak kenal kota
yang satu ini?
Gak cuma Kuta, suguhan panorama indah Pulau Bali pun terpancar melalui
spot-spot alam yang ada di kota kecil Bali Utara ini. Tapi nih guys, gak hanya alam nya aja yang
membuat kota ini mampu menyedot perhatian masyarakat luar kota. Prestasi
peserta didik disini juga patut diacungi jempol karena mampu menjadi daya tarik
tersendiri di dunia pendidikan Indonesia khususnya Bali. Sehingga, tak khayal
kota ini dijuluki sebagai kota pendidikan. Niar salah satu mahasiswi jurusan
pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, UNDIKSHA pun mengakui hal serupa. “Gak heran sih ya kalo dapet julukan
seperti itu. Sekolah-sekolah di tempat ini kualitasnya sudah sangat baik
sehingga mampu menghasilkan lulusan terbaik yang dimiliki Bali”, ujar gadis
berkacamata ini. Jalanan kota yang masih dalam kategori asri dan belum sepadat
serta semacet daerah Kuta pun menjadi salah satu alasan gadis berbintang gemini
ini memilih untuk melanjutkan studinya ke Singaraja.
Nah
guys udah pada tau kan, bahasa juga menjadi salah satu aspek pendidikan di
Indonesia. Bicara bahasa dan Singaraja pasti langsung terbesit bahasa pergaulan
masyarakatnya , ya gak sih?
Yup, kata-kata yang identik menjadi sebuah bahasa kasar di beberapa daerah
justru malah menjadi santapan sehari-hari telinga kita ketika berada di kota
Singaraja. Lalu, ada gak sih pro kontra terkait penggunaan bahasa antara
masyarakat pendatang dan masyarakat asli Singaraja? Niar, gadis kelahiran
Denpasar ini pun angkat bicara, “Bagiku yang juga bertitle sebagai pendatang di
kota ini, bahasa memang merupakan media komunikasi yang penting. Ya, anggap
saja kalau bahasa itu adalah tiket utama mu untuk bisa bersosialisasi dengan
baik di daerah yang belum pernah kamu
kunjungi sebelumnya.”
“Awalnya, aku merasa kikuk banget pas lagi
kumpul-kumpul bareng temen. Mereka ngobrolnya udah sampai Z sedangkan aku masih
stay di A. Jadi, kesannya seperti orang yang ketinggalan kereta dan gak keburu
untuk ngejar,” canda Niar.
Niar
pun menambahkan bahwa dirinya gak mau ambil pusing terkait bahasa pergaulan di
Singaraja yang notabenenya berbasa bali “kasar”, selama tidak menyinggung
perasaan pendengar dan mereka bisa menjelaskan makna di balik ucapan tersebut.
“Singaraja
memang gak akan habisnya jika dikupas lebih dalam. Yang pasti, Singaraja adalah
rumah kedua bagi ku karena disini aku menemukan hal-hal baru, teman baru,
keluarga baru serta mengenal ragam budaya yang ada di kota pendidikan ini,”
tutupnya.
Swandari
Rabu, 24 Juni 2015
Gema Kreasi Matematika : Serunya Gak Habis-habis
Detik-detik
perhelatan akbar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Matematika yakni
Gema Kreasi Matematika (GKM) 2015 mulai terasa sampai ke seluruh urat nadi
panitia pelaksana acara yang tak lain tak bukan adalah seluruh anggota aktif
HMJ Pendidikan Matematika. GKM 2015 yang bertajuk EKSPRESI “Eksplorasi Seni dan
Kreasi” ini memang telah dinanti oleh seluruh pihak tak terkecuali bagi
seluruh civitas akademika UNDIKSHA. GKM yang merupakan sub acara dari Pekan
Gema Matematika (PGM) ini adalah salah satu bukti eksistensi HMJ Pendidikan Matematika dalam bidang seni dan budaya. Nah, siapa bilang Matriks, begitu sapaan
bagi HMJ Pendidikan Matematika ini, hanya ahli dalam hal hitung-menghitung ?
EKPRESI, tema ini
menunjukkan bahwa Matriks tak ingin jauh tertinggal dalam derasnya arus
globalisasi. Langkah inovatif terus digalakkan dan Matriks pun menyulutkan
semangat kreativitas mereka dalam sebuah ajang bergengsi yang hanya
diselenggarakan setahun sekali, ya Gema
Kreasi Matematika (GKM). Di telinga masyarakat awam, GKM mungkin masih “abu-abu” tetapi jangan salah acara
pemuncak PGM dari Matriks ini justru menjadi acara yang sangat dinanti seluruh
civitas akademika UNDIKSHA. Hal ini lantaran Matriks kerap kali menyuguhkan
tontonan yang “menjual”. Nah, dalam
GKM ini beberapa acara andalan Matriks
memang benar-benar menjadi “senjata pamungkas” yang membuat para penonton
begitu penasaran dengan performance
dari kawan-kawan Matriks.
Acara
yang dihelatkan di Auditorium UNDIKSHA pada Minggu, 19 April 2015 tepat sekitar
pukul enam sore lalu ini diawali dengan tarian pembukaan yaitu “tari Kanyaka Sura”. Lemah gemulai gerakan
sang penari dari Matriks ini ternyata mampu membius para undangan dan penonton
yang hadir malam itu. Acara yang dipandu oleh Payas dan Bagus Ardhana ini pun
dilanjutkan ke acara laporan ketua panitia GKM 2015 yaitu I Putu Surya Negara.
Pada kesempatan itu pula, Pembantu Dekan III di lingkungan FMIPA UNDIKSHA, Drs. I Made Sugiarta, M.Si yang berkesempatan
hadir kala itu langsung diminta menyampaikan sepatah dua patah kata sambutannya
yang sekaligus akan membuka acara GKM 2015 secara resmi ditandai dengan pemukulan
gong.
Antusiasme
penonton pun meningkat usai gong digemakan. Kian larut kian tinggi persentase kehadiran penonton di
Auditorium, 19 April lalu. Dari lantai
satu hingga lantai tiga tak luput dari penonton yang ingin menyaksikan
persembahan Matriks dalam GKM kali ini. Acara demi acara ditampilkan di atas
panggung sederhana nan megah dibalut dengan konsep “zaman batu” sebagai
dekorasinya. Acara yang ditampilkan mulai dari Telek Barong Rangda hingga
sebuah operet berjudul “Aduh, Mama Sayange”. Adapun, operet GKM menjadi salah
satu acara persembahan Matriks yang sangat menyedot antusiasme penonton.
Bagaimana tidak, dalam operet kali ini Matriks mengkolaborasikan beberapa sub
acara spesial di dalamnya seperti masquarade
COC, Dark Light Theater, Jungle and Fire dance serta Modern Dance
yang cukup menyita perhatian dan gelak tawa penonton.
Operet
“Aduh, Mama Sayange” mengenalkan penonton pada dua sosok anak muda, Glen
diperankan oleh Trisna Adhiyasa dan Bola diperankan oleh Surya Negara, yang
begitu mencintai ketenaran diri mereka disekolah. Nah, bagi mereka yang menonton operet sampai akhir acara pasti tahu
betul bagaimana serunya jalan cerita operet yang dibungkus rapi dan menarik
berjudul “Aduh, Mama sayange” ini. Persiapan dari kawan Matriks pun terbayarkan
dengan aksi panggung yang luar biasa di tengah ratusan penonton setia GKM.
Penonton pun berbisik, “Mana nih Dark
Light Theater-nya?”, ujar salah seorang penonton di lantai dua kepada salah
seorang temannya yang nampak tak sabar ingin melihat suguhan unik dari Dark Light Theater Matriks kali ini.
Seraya tak ingin memupuskan harapan penonton, Dark Light Theater pun ditampilkan dengan apik ditemani lagu dari
One Direction berjudul Steal My Girl
sebagai back song malam itu. Jalan
cerita yang romantis dikemas dengan lagu yang romantis ini pun sontak membuat
para penonton ikut terhanyut dan bersenandung malu-malu melihat adegan yang
ditampilkan di atas panggung GKM. Tak sampai disana, aksi Matriks pun berlanjut
dalam masquarade COC yang turut
menyita antusiasme penonton. Game COC
yang sedang booming dikalangan anak
muda ini ternyata menjadi salah satu inspirasi bagi Matriks sehingga
menjadikannya pertunjukkan yang menarik di sela-sela operet. Acara demi acara
berlanjut hingga jungle and fire dance serta
modern dance pun menjadi suguhan
Matriks malam itu.
Waktu
pun bergerak semakin medekati acara pamuncak GKM 2015 malam lalu. Salah satu
aksi yang paling dinanti oleh seluruh penonton. Apalagi jika bukan aksi bintang
tamu “kece”, Nosstress. Panggung GKM pun mulai menyuarakan senandung indah
lirik-lirik tajam dari salah satu band kebanggaan Bali yang sukses mengepakkan
sayapnya di kancah Internasional ini. Tak khayal, untaian lirik demi lirik pun
dinyanyikan merdu oleh mereka yang mengaku fans
setia band from Bali to Europe, Nosstress
dalam acara GKM lalu. Namun, keseruan nampaknya tak berlangsung lama bagi
penonton malam itu. Nosstress yang diwakili salah satu personilnya, Man Angga
menutup acara GKM lalu dengan sebuah lagu perpisahan singkat. Kecewa? Pasti
dirasakan oleh penonton malam itu. Apa daya, waktu memang singkat dan tanpa
disadari acara yang spektakuler persembahan dari matriks, GKM 2015 pun usai.
Keringat pun terbayar dengan suksesnya acara Matriks ini. Tak terlepas dari
bayang-bayang kekurangan dalam kegiatan kali ini, Matriks telah berhasil
melampaui batas maksimum kemampuannya. Sukses terus Matriks, GKM 2015 hora!!
-swan-
Selasa, 12 Mei 2015
HMJ PENDIDIKAN MATEMATIKA: GKM 2015
HMJ PENDIDIKAN MATEMATIKA: GKM 2015: Gema Kreasi Matematika Serunya Gak Habis-habis Detik-detik perhelatan akbar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Mat...
Selasa, 08 Juli 2014
'Sistem Kebut Semalam'
SKS
Indonesian
Student Learning System
SKS
memang sedang merajahi dunia para pelajar Indonesia saat ini. Bukan, bukan
sistem kredit semester bagi anak kuliahan tapi sistem kebut semalam atau sistem
kebut sejam. Ya, sks menjadi alternatif utama pelajar ketika menghadapi ujian
esok harinya. Para pelajar yang menggunakan sistem ini akan mati-matian mempelajari
materi ujian hingga
rela mengurangi jam tidurnya. Beberapa pelajar juga menganggap sistem ini
merupakan cara belajar yang efektif dan tak jarang menjadi salah satu sistem
belajar favorit mereka.
Padatnya
kegiatan non akademik menjadi alasan utama sebagian besar pelajar sehingga mereka
tak dapat menghindari yang namanya sistem sks ini. Hal serupa dialami oleh
Linda Apriliani, salah seorang mahasiswi Jurusan Pendidikan Matematika,
UNDIKSHA. "Aku sering banget sks tiap ada ujian, alasannya tidak lain
tidak bukan karena terbatasnya waktu untuk mereview pelajaran usai kuliah
akibat padatnya kegiatan non akademik yang aku tekuni di kampus" ungkap
gadis berzodiak aries ini. "Aku bahkan berusaha untuk menghindari sistem
sks ini, cuma terasa begitu sulit meski aku tahu bahwa hasil belajar kebut
semalam ini terkadang tak maksimal dan tak sesuai harapan" tambahnya.
Dibalik
sistem kebut semalam/sejam (sks) ini ada beberapa hal yang patut diperhatikan
oleh para pelajar. Gaya belajar kebut semalam sejatinya telah membuat fungsi
otak terganggu karena otak menjadi kelelahan dan tidak bisa menerima rangsangan
dari luar. Hal ini dikarenakan jadwal otak yang seharusnya istirahat tetapi malah
dipaksa semalaman untuk terus bekerja. Padahal saat jadwalnya tidur, otak
mendapatkan protein untuk kinerjanya. Jika seseorang terus menerus belajar
semalaman maka ia akan kurang tidur sehingga akan berdampak pada gangguan
memori dan mengganggu kinerja otak itu sendiri. Kondisi otak yang kurang
istirahat ini akan memberikan dampak buruk pada tubuh seperti cemas, gelisah,
stres, kurang konsentrasi serta menurunkan sistem kekebalan tubuh. Nah, melihat
dampak yang ditimbulkan dari sistem kebut semalam/sejam ini maka alangkah
baiknya para pelajar memilih sistem belajar yang lebih efektif dan efisien
namun tetap memperhatikan kesehatan diri masing-masing. (swandari/berbagai sumber)
Kamis, 26 Juni 2014
Kepergian mu part 2
Hari ini aku mengunjunginya
Ku singgah di ruang kecil tempat dulu aku dan dirinya pernah bersenda gurau
Ruang tanpa cahay ketika malam tiba
Ruang yang menjadi saksi bisu kesakitan dalam raganya
Ruang yang menjadi teman setia ketika ia tak mampu tuk berdiri
Aku masih melihat segala kenangan tersimpan dalam ruang kecil ini
Sepi kurasakan saat ku jumpai tak ada sosoknya lagi di ruangan itu
Ku masuk dan duduk di sebuah ranjang tidur dari kayu
Tempat dia menghabiskan waktunya selama bermimpi
Dan ku masih temui bayang drinya tertidur disana
Ya, kenanganya masih melekat kuat dalam ingatanku ini
Aku mulai menatap sekeliling ruangan itu
Ada figure di dalam sebuah bingkai sederhana
Ternyata itu foto dirinya bersama orang-orang penting dalam hidupnya
Foto itu sangat sederhana seperti sebuah klise..
Hanya warna abu yang menghiasi figure itu
Ku lihat dirinya begitu berwibawa di foto itu
da seorang wanita yang menjadi kekasih hati sekaligus menjadi belahan jiwanya disana
Tiga orang bocah lucu pun turut berfoto bersamanya
Aku tersenyum sejenak
Andai aku dapat melintasi waktu maka aku sangat ingin mengetahui kisah hidupnya dahulu
Gila.. aku memang sudah gila
Tapi jujur kegilaan ku ini terkadang membuat diri ini benar-benar tak tahan
Pandangan ku kini beralih ke sebuah deretan kacamata yang ada tak jauh di dekat bingakai tadi
Kembali ku teringat padanya
Dia pernah bercerita padaku tentang kacamata itu
Ya, ia bercerita dengan senyumnya pada saat itu
Ku masih tak menyangka dia sudah menjadi kenangan yang hidup dalam ingatanku
Raganya kini tak nampak di hadap ku
Hanya kenangan bersamanya yang selalu muncul dihadapku
Bagaiman kondisinya saat ini? Apa yang sedang dilakukannya? Masihkah ia mengingat diriku? Dimana dia Mengapa aku sangat merindukannya? mengapa aku masih belum bisa menerima kepergiannya?
Pertanyaan seperti itu terus muncul dan masih selalu menjadi tanda tanya besar dalam pikiranku
Jawabannya belum kudapati
Ruang kecil ini
Kini tak ada lagi suara lirihnya di tempat ini
Hanya ruangan bisu ini yang ada
Hanya barang-barang miliknya yang tersisa
Ketika ku ingin menutup ruang kecil itu
Hati ini menahan ku
Ada sesuatu disana yang tak seharusnya aku tinggalkan
Tak seharusnya aku kunci
Entah apa itu..
Kubiarkan raga ini terduduk kembali di tempat tidur kayunya
Ku terus menatap ke arah tempat tidur sederhana itu
membayangkan terakhir kali dirinya disana
Aku kecewa
Ketika ia berjuang untuk tetap hidup, aku justru tak menemaninya
Ketika ia merintih kesakitan aku justru tak dapat mendengarnya
Ketika ia ingin melakukan hal yang ingin ia lakukan di tengah kesulitannya, aku justru tak membantunya
Kemana saja aku selama ini
Mengapa aku tak peka akan semua itu
Hey, dia ingin berjuang tuk hidup
Ia ingin berteriak itu tapi tak bisa
Ia ingin berbicara tapi tertahan
Hingga akhrinya ia memilih tuk pasrah pada ajal
Aku kecewa
Mengapa aku tak mampu memahaminyaa
Megapa aku begitu bodohnya
Kini ia telah pergi
Telah lama semnjak kepergiannya
Aku masih ingin berharap bahwa ini semua hanya sebuah mimpi dan ketika ku terbangun ku berharap masih dapat menjumpainya
Tapi, nyatanya tidak
Ini begitu nyata
Dan kenyataan bahwa ia telah pergi, itu memang benar
Hati ku mulai merasakan perih itu kembali
Air mata mulai tak terbendung
Tapi, kuyakinkan diri tuk kuat mengahadapi ini semua
Aku teringat saat itu
Setelah hari pembakaran mayatnya
Aku bermimpi
Aku melihatnya terduduk di atas kerandanya
Aku tak melihat sepasang bola matanya
Matanya tertutup dan ada sedikit pecahan cermin dan pis bolong menempel di kedua matanya yang tertutup
Ku pastikan dari kejauhan bahwa itu benar dirinya
Ya, aku yakin itu dia
Aku tak merasakan apapun dalam mimpi itu
Yang kuingat saat itu juga kujeritkan namanya sekeras mungkin agar ia mendengarku, menyadari kehadiranku
Tak kuasa ku menahan air mata
Ku sebut namanya berulang kali sambil menangis sejadi-jadinya
Ketika ku ingin menghampiri dirinya, ada seseorang yang menahan ku
Orang itu menarik tanganku
Aku bersikeras tuk melepas gengaman itu, tapi tak bisa
Lalu, sayup-sayup kudengar ia mulai berbicara padaku
Ya, dari kejauhan ia berbicara padaku
Meski kami terpisah jarak saat itu, tapi aku cukup jelas mendengar pesannya
Pesan terakhir yang ingin ia sampaikan tapi hanya bisa ia sampaikan dalam mimpi ini
Hanya satu nama yang ia sebut saat itu padaku
kekasih hatinya, hanya itu
Kemudian aku terbangun dari mimpi itu
Perasaan dalam mimpi ku itu masih terbawa hingga aku terbangun
Aku mulai menangis lagi ketika aku mengingat pesannya dalam mimpiku
Hati ku kembali bergumam
Mengapa hanya di mimpi itu aku dapat berjumpa dengannya?
Aku masih ingin bersenda gurau dengannya
Aku masih ingin membawakannya makanan
Aku masih ingin tertawa bersamanya
Aku masih ingin melihatnya berdampingan dengan sang kekasih hati
Apa daya ku sekarang?
Ia telah pergi jauh
Perjalanannya sangat panjang
Ya, sangat panjang tuk menemui DIA yang maha abadi
Ingin ku melepasnya, ingin ku mengikhlaskannya
Namun, masih terasa sulit karena bayangnya masih selalu ada
Tapi aku kan mencoba tuk ikhlas
Selamat jalan wayah.. :*
Ku singgah di ruang kecil tempat dulu aku dan dirinya pernah bersenda gurau
Ruang tanpa cahay ketika malam tiba
Ruang yang menjadi saksi bisu kesakitan dalam raganya
Ruang yang menjadi teman setia ketika ia tak mampu tuk berdiri
Aku masih melihat segala kenangan tersimpan dalam ruang kecil ini
Sepi kurasakan saat ku jumpai tak ada sosoknya lagi di ruangan itu
Ku masuk dan duduk di sebuah ranjang tidur dari kayu
Tempat dia menghabiskan waktunya selama bermimpi
Dan ku masih temui bayang drinya tertidur disana
Ya, kenanganya masih melekat kuat dalam ingatanku ini
Aku mulai menatap sekeliling ruangan itu
Ada figure di dalam sebuah bingkai sederhana
Ternyata itu foto dirinya bersama orang-orang penting dalam hidupnya
Foto itu sangat sederhana seperti sebuah klise..
Hanya warna abu yang menghiasi figure itu
Ku lihat dirinya begitu berwibawa di foto itu
da seorang wanita yang menjadi kekasih hati sekaligus menjadi belahan jiwanya disana
Tiga orang bocah lucu pun turut berfoto bersamanya
Aku tersenyum sejenak
Andai aku dapat melintasi waktu maka aku sangat ingin mengetahui kisah hidupnya dahulu
Gila.. aku memang sudah gila
Tapi jujur kegilaan ku ini terkadang membuat diri ini benar-benar tak tahan
Pandangan ku kini beralih ke sebuah deretan kacamata yang ada tak jauh di dekat bingakai tadi
Kembali ku teringat padanya
Dia pernah bercerita padaku tentang kacamata itu
Ya, ia bercerita dengan senyumnya pada saat itu
Ku masih tak menyangka dia sudah menjadi kenangan yang hidup dalam ingatanku
Raganya kini tak nampak di hadap ku
Hanya kenangan bersamanya yang selalu muncul dihadapku
Bagaiman kondisinya saat ini? Apa yang sedang dilakukannya? Masihkah ia mengingat diriku? Dimana dia Mengapa aku sangat merindukannya? mengapa aku masih belum bisa menerima kepergiannya?
Pertanyaan seperti itu terus muncul dan masih selalu menjadi tanda tanya besar dalam pikiranku
Jawabannya belum kudapati
Ruang kecil ini
Kini tak ada lagi suara lirihnya di tempat ini
Hanya ruangan bisu ini yang ada
Hanya barang-barang miliknya yang tersisa
Ketika ku ingin menutup ruang kecil itu
Hati ini menahan ku
Ada sesuatu disana yang tak seharusnya aku tinggalkan
Tak seharusnya aku kunci
Entah apa itu..
Kubiarkan raga ini terduduk kembali di tempat tidur kayunya
Ku terus menatap ke arah tempat tidur sederhana itu
membayangkan terakhir kali dirinya disana
Aku kecewa
Ketika ia berjuang untuk tetap hidup, aku justru tak menemaninya
Ketika ia merintih kesakitan aku justru tak dapat mendengarnya
Ketika ia ingin melakukan hal yang ingin ia lakukan di tengah kesulitannya, aku justru tak membantunya
Kemana saja aku selama ini
Mengapa aku tak peka akan semua itu
Hey, dia ingin berjuang tuk hidup
Ia ingin berteriak itu tapi tak bisa
Ia ingin berbicara tapi tertahan
Hingga akhrinya ia memilih tuk pasrah pada ajal
Aku kecewa
Mengapa aku tak mampu memahaminyaa
Megapa aku begitu bodohnya
Kini ia telah pergi
Telah lama semnjak kepergiannya
Aku masih ingin berharap bahwa ini semua hanya sebuah mimpi dan ketika ku terbangun ku berharap masih dapat menjumpainya
Tapi, nyatanya tidak
Ini begitu nyata
Dan kenyataan bahwa ia telah pergi, itu memang benar
Hati ku mulai merasakan perih itu kembali
Air mata mulai tak terbendung
Tapi, kuyakinkan diri tuk kuat mengahadapi ini semua
Aku teringat saat itu
Setelah hari pembakaran mayatnya
Aku bermimpi
Aku melihatnya terduduk di atas kerandanya
Aku tak melihat sepasang bola matanya
Matanya tertutup dan ada sedikit pecahan cermin dan pis bolong menempel di kedua matanya yang tertutup
Ku pastikan dari kejauhan bahwa itu benar dirinya
Ya, aku yakin itu dia
Aku tak merasakan apapun dalam mimpi itu
Yang kuingat saat itu juga kujeritkan namanya sekeras mungkin agar ia mendengarku, menyadari kehadiranku
Tak kuasa ku menahan air mata
Ku sebut namanya berulang kali sambil menangis sejadi-jadinya
Ketika ku ingin menghampiri dirinya, ada seseorang yang menahan ku
Orang itu menarik tanganku
Aku bersikeras tuk melepas gengaman itu, tapi tak bisa
Lalu, sayup-sayup kudengar ia mulai berbicara padaku
Ya, dari kejauhan ia berbicara padaku
Meski kami terpisah jarak saat itu, tapi aku cukup jelas mendengar pesannya
Pesan terakhir yang ingin ia sampaikan tapi hanya bisa ia sampaikan dalam mimpi ini
Hanya satu nama yang ia sebut saat itu padaku
kekasih hatinya, hanya itu
Kemudian aku terbangun dari mimpi itu
Perasaan dalam mimpi ku itu masih terbawa hingga aku terbangun
Aku mulai menangis lagi ketika aku mengingat pesannya dalam mimpiku
Hati ku kembali bergumam
Mengapa hanya di mimpi itu aku dapat berjumpa dengannya?
Aku masih ingin bersenda gurau dengannya
Aku masih ingin membawakannya makanan
Aku masih ingin tertawa bersamanya
Aku masih ingin melihatnya berdampingan dengan sang kekasih hati
Apa daya ku sekarang?
Ia telah pergi jauh
Perjalanannya sangat panjang
Ya, sangat panjang tuk menemui DIA yang maha abadi
Ingin ku melepasnya, ingin ku mengikhlaskannya
Namun, masih terasa sulit karena bayangnya masih selalu ada
Tapi aku kan mencoba tuk ikhlas
Selamat jalan wayah.. :*
Kepergian mu part 1
Ku lihat dirinya berbaring
Ku lihat dirinya tertidur pulas
Yaa.. hanya tertidur
Matanya hanya terkunci tuk sementara
Aku yakin dia akan membuka kelopak matanya
Ku lihat dia sedang bermimpi
Mimpi nan indah hingga membuatnya enggan terbangun..
Ku terus menatap kedua kelopak mata itu
Menanti ia terbangun dan memanggil namaku, seperti dulu
Ku menunggu bibirnya mengeluarkan sepatah kata
Ku yakin dia akan bangun
Dia hanya tertidur
Detik berlalu
Menit pun berlalu jauh ke menit-menit berikutnya
Tak kusadari hari pun berganti begitu cepatnya
Mentari menyapa lalu ia pergi meninggalkan sisa sinarnya di ufuk barat
Kini aku mulai khawatir
Semakin khawatir
Mengapa kelopak matanya tak kunjung terbuka?
Mengapa mata itu terkunci begitu kuatnya?
Mengapa bibirnya begitu pucat?
Mengapa ia tak kunjung memanggil namaku?
Aku masih menanti
Tapi, nampaknya penantianku sia-sia
Itu semua hanya harapan semuku
Harapan bahwa ia hanya tertidur sementara dan bermimpi indah
Nyatanya, hanya ada aku disini yang terdiam sambil bermimpi
Hey, untuk apa bongkahan-bongkahan es itu?
Mengapa tubuh renta itu ditutupi?
Apa yang kalian lakukan padanya?
Ia hanya tertidur
Ya, hanya tertidur
Hatiku memberontak
Mereka semakin membuatku melihat kenyataan
Mereka mulai membangunkan ku
Menggoyahkan segala harapanku
Aku tak berdaya
Aku pun tak percaya
Ada apa ini?
Bukankah dia hanya tertidur?
Berapa juta kali harus aku katakan bahwa dia hanya ingin bermimpi indah
Aku mendekatinya..
Kurasakan langkah berat pada kedua kaki ini
Hati ini mulai merengek
Perlahan tapi pasti
Kudekati dia
Dengan rasa khawatir yang menyelimutiku
Dengan rasa takutmengalir di seluruh darahku
Ku buka kain yang menutupi tubuh rentanya
Apa ini? dimana kedua kelopak mata itu?
Dimana wajah tua yang sangat kurindukan itu?
Mengapa hanya ada bongkahan es disana?
Seseorang melangkah mendekati raga ku yang tengah berdiri terhenyut dengan apa yang ada di hadapku
Ia berbisik bahwa orang yang memiliki wajahtua itu sudahtertidur lelap sambil bermimpi indah dan takkan kembali lagi
Ia berkata lirih
Namun sangat kurasakankesedihandalam dirinya
Kututup kembali seluruh bongkahan es yang menyelimuti raganya dengankain coklat itu
Dan kembali terduduk di dekatnya
Hatiku bergumam, bukankah dia hanya tertidur sementara
Tapi apa yang kudengar barusan
Ia tertidur dan bermimpi sangat indahnya lalu pergi tanpa meninggalkan kata untuk ku
Apa ia tersesat dalam mimpnya hingga ia tak mampu membuka matanya
Apa mimpi itu membuatnya melupakan ku, hingga ia enggan tuk kembali
Seketika kurasakan begitu perih hati ini
Kurasakan luka terukir dalam hati ini
Perih...
Perih hingga membuat air mata ku berlinang dan terjatuh membasahi kedua pipi ini
Kecewa kuraskan pada raga ini
Jika memang telah pergi jauh maka apa yang dapat aku lakukan
Kekhawatiran ku menjelma menjadi kepedihan
Sepasang kelopak mata itu tak dapat kutemui lagi
Ia terkunci bersama segala kisha hidupnya
Ia takkan bisa bercerita kembali
Dan kurasa itu yang ia inginkan
Kini aku menyadari
Dan mulai menerima bahwa ia tertidur bukan untuk sementara
Tapi untuk selamanya
Ku lihat dirinya tertidur pulas
Yaa.. hanya tertidur
Matanya hanya terkunci tuk sementara
Aku yakin dia akan membuka kelopak matanya
Ku lihat dia sedang bermimpi
Mimpi nan indah hingga membuatnya enggan terbangun..
Ku terus menatap kedua kelopak mata itu
Menanti ia terbangun dan memanggil namaku, seperti dulu
Ku menunggu bibirnya mengeluarkan sepatah kata
Ku yakin dia akan bangun
Dia hanya tertidur
Detik berlalu
Menit pun berlalu jauh ke menit-menit berikutnya
Tak kusadari hari pun berganti begitu cepatnya
Mentari menyapa lalu ia pergi meninggalkan sisa sinarnya di ufuk barat
Kini aku mulai khawatir
Semakin khawatir
Mengapa kelopak matanya tak kunjung terbuka?
Mengapa mata itu terkunci begitu kuatnya?
Mengapa bibirnya begitu pucat?
Mengapa ia tak kunjung memanggil namaku?
Aku masih menanti
Tapi, nampaknya penantianku sia-sia
Itu semua hanya harapan semuku
Harapan bahwa ia hanya tertidur sementara dan bermimpi indah
Nyatanya, hanya ada aku disini yang terdiam sambil bermimpi
Hey, untuk apa bongkahan-bongkahan es itu?
Mengapa tubuh renta itu ditutupi?
Apa yang kalian lakukan padanya?
Ia hanya tertidur
Ya, hanya tertidur
Hatiku memberontak
Mereka semakin membuatku melihat kenyataan
Mereka mulai membangunkan ku
Menggoyahkan segala harapanku
Aku tak berdaya
Aku pun tak percaya
Ada apa ini?
Bukankah dia hanya tertidur?
Berapa juta kali harus aku katakan bahwa dia hanya ingin bermimpi indah
Aku mendekatinya..
Kurasakan langkah berat pada kedua kaki ini
Hati ini mulai merengek
Perlahan tapi pasti
Kudekati dia
Dengan rasa khawatir yang menyelimutiku
Dengan rasa takutmengalir di seluruh darahku
Ku buka kain yang menutupi tubuh rentanya
Apa ini? dimana kedua kelopak mata itu?
Dimana wajah tua yang sangat kurindukan itu?
Mengapa hanya ada bongkahan es disana?
Seseorang melangkah mendekati raga ku yang tengah berdiri terhenyut dengan apa yang ada di hadapku
Ia berbisik bahwa orang yang memiliki wajahtua itu sudahtertidur lelap sambil bermimpi indah dan takkan kembali lagi
Ia berkata lirih
Namun sangat kurasakankesedihandalam dirinya
Kututup kembali seluruh bongkahan es yang menyelimuti raganya dengankain coklat itu
Dan kembali terduduk di dekatnya
Hatiku bergumam, bukankah dia hanya tertidur sementara
Tapi apa yang kudengar barusan
Ia tertidur dan bermimpi sangat indahnya lalu pergi tanpa meninggalkan kata untuk ku
Apa ia tersesat dalam mimpnya hingga ia tak mampu membuka matanya
Apa mimpi itu membuatnya melupakan ku, hingga ia enggan tuk kembali
Seketika kurasakan begitu perih hati ini
Kurasakan luka terukir dalam hati ini
Perih...
Perih hingga membuat air mata ku berlinang dan terjatuh membasahi kedua pipi ini
Kecewa kuraskan pada raga ini
Jika memang telah pergi jauh maka apa yang dapat aku lakukan
Kekhawatiran ku menjelma menjadi kepedihan
Sepasang kelopak mata itu tak dapat kutemui lagi
Ia terkunci bersama segala kisha hidupnya
Ia takkan bisa bercerita kembali
Dan kurasa itu yang ia inginkan
Kini aku menyadari
Dan mulai menerima bahwa ia tertidur bukan untuk sementara
Tapi untuk selamanya
Langganan:
Postingan (Atom)




